Concrete, Pictorial, Abstract (CPA) adalah pendekatan bertahap yang membantu anak memahami matematika mulai dari benda nyata, kemudian gambar atau representasi visual, hingga angka dan simbol. Pendekatan ini merupakan salah satu karakteristik penting dalam Singapore Math karena anak tidak langsung diarahkan untuk menghafal rumus. Sebaliknya, anak diberikan kesempatan untuk memahami makna sebuah konsep terlebih dahulu sebelum menggunakannya dalam bentuk matematika yang abstrak.
Bagi ayah bunda yang sedang mencari bimbel matematika anak atau program sempoa, memahami pendekatan CPA dapat membantu menentukan metode belajar yang sesuai. Kemampuan berhitung memang penting, tetapi pemahaman konsep dan kemampuan memecahkan masalah juga menjadi fondasi penting dalam perkembangan matematika anak.
Apa Itu Concrete, Pictorial, Abstract?
CPA merupakan singkatan dari tiga tahapan pembelajaran:
- Concrete: anak belajar menggunakan benda nyata.
- Pictorial: anak memahami konsep melalui gambar atau model visual.
- Abstract: anak menggunakan angka dan simbol matematika.
Ketiga tahap tersebut saling berhubungan. Anak tidak harus selalu menyelesaikan satu tahap secara kaku sebelum dapat menggunakan tahap berikutnya. Dalam praktik pembelajaran, guru dapat kembali menggunakan benda konkret atau gambar ketika anak mengalami kesulitan memahami konsep tertentu.
1. Concrete: Belajar Matematika dari Benda Nyata
Tahap Concrete merupakan tahap ketika anak menggunakan benda yang dapat dilihat, disentuh, dan dipindahkan.
Misalnya, ayah bunda ingin mengajarkan konsep penjumlahan 3 + 2. Anak dapat diberikan tiga balok dan kemudian dua balok tambahan. Setelah seluruh balok digabungkan, anak dapat menghitung jumlahnya dan menemukan bahwa terdapat lima balok.
Dengan cara ini, anak tidak hanya melihat angka 3 dan 2. Anak mendapatkan pengalaman langsung bahwa penjumlahan berarti menggabungkan dua kelompok menjadi satu kelompok yang lebih besar.
Mengapa Benda Konkret Membantu Anak?
Bagi anak yang masih berada pada tahap awal perkembangan matematika, angka merupakan sesuatu yang abstrak. Benda konkret memberikan pengalaman yang lebih mudah diamati.
Benda yang digunakan juga tidak harus mahal atau khusus. Balok, kancing, stik es krim, mainan, pensil, atau benda sehari-hari dapat digunakan sebagai media pembelajaran selama aman dan sesuai dengan usia anak.
2. Pictorial: Mengubah Konsep Menjadi Gambar
Setelah anak memiliki pengalaman dengan benda nyata, konsep tersebut dapat direpresentasikan dalam bentuk gambar, diagram, garis bilangan, atau model visual.
Dalam contoh 3 + 2, tiga benda dan dua benda dapat digambarkan menjadi kelompok-kelompok visual. Anak mulai memahami bahwa gambar tersebut mewakili benda yang sebelumnya mereka gunakan.
Tahap pictorial menjadi jembatan penting antara pengalaman konkret dan penggunaan simbol matematika.
Mengenal Bar Model
Salah satu representasi visual yang banyak digunakan dalam Singapore Math adalah Bar Model.
Bar Model membantu anak melihat hubungan antara jumlah yang diketahui dan jumlah yang belum diketahui.
Misalnya, sebuah soal mengatakan:
“Dina memiliki 8 pensil. Ibu memberikan 5 pensil lagi. Berapa jumlah pensil Dina sekarang?”
Anak dapat menggambarkan 8 dan 5 sebagai bagian dari sebuah model sebelum menentukan operasi matematika yang sesuai.
Dengan demikian, anak belajar memahami struktur masalah, bukan sekadar mencari angka yang harus dijumlahkan.
3. Abstract: Memahami Angka dan Simbol
Tahap ketiga adalah Abstract, yaitu ketika anak mulai menggunakan angka, simbol, dan operasi matematika secara formal.
Setelah memahami contoh 3 + 2 melalui benda dan gambar, anak kemudian dapat menuliskan:
3 + 2 = 5
Pada tahap ini, simbol bukan sekadar sesuatu yang harus dihafalkan. Anak sudah memahami makna penjumlahan dari pengalaman sebelumnya.
Mengapa Tahap Abstrak Tidak Sebaiknya Terlalu Cepat?
Jika anak langsung diperkenalkan dengan simbol tanpa memahami maknanya, mereka mungkin dapat mengikuti prosedur tetapi belum tentu memahami konsep.
CPA membantu memberikan konteks sebelum anak menggunakan simbol. Ketika pemahaman sudah terbentuk, angka dan rumus menjadi lebih bermakna.
Bagaimana CPA Membantu Anak Memahami Matematika?
Membangun Pemahaman Konsep
CPA membantu anak memahami hubungan antara benda, gambar, dan simbol. Anak dapat melihat bahwa ketiganya sebenarnya merepresentasikan konsep matematika yang sama.
Mengurangi Ketergantungan pada Hafalan
Anak tetap membutuhkan latihan dan mungkin perlu mengingat fakta matematika tertentu. Namun, CPA memberikan dasar pemahaman sehingga proses belajar tidak hanya bergantung pada hafalan.
Membantu Menyelesaikan Soal Cerita
Representasi visual dapat membantu anak memahami informasi dalam soal cerita. Anak belajar menentukan apa yang diketahui, apa yang ditanyakan, dan bagaimana hubungan antarangka.
Melatih Problem Solving
Anak didorong untuk berpikir mengenai strategi penyelesaian. Mereka tidak hanya mencari jawaban, tetapi memahami proses yang digunakan untuk memperoleh jawaban tersebut.
Contoh Penerapan CPA pada Perkalian
CPA juga dapat digunakan untuk materi yang lebih kompleks.
Misalnya, anak perlu memahami 4 × 3.
Concrete
Anak membuat empat kelompok yang masing-masing terdiri dari tiga balok.
Pictorial
Anak menggambarkan empat kelompok tersebut menggunakan gambar atau diagram.
Abstract
Setelah memahami kelompok yang sama banyak, anak menuliskan:
4 × 3 = 12
Dengan proses tersebut, anak memahami bahwa perkalian dapat digunakan untuk menunjukkan beberapa kelompok yang memiliki jumlah sama.
Apakah CPA Cocok untuk Anak Indonesia?
Pendekatan CPA dapat diterapkan pada anak Indonesia karena konsep dasarnya bersifat universal. Namun, keberhasilannya sangat dipengaruhi oleh cara pengajaran, kemampuan awal anak, usia, dan kesesuaian materi.
Bagi ayah bunda yang mencari bimbel matematika anak, sebaiknya tidak hanya melihat apakah sebuah program menggunakan istilah CPA. Perhatikan bagaimana metode tersebut diterapkan dalam kegiatan belajar.
Pilih Program Sesuai Level Anak
Anak yang baru mengenal konsep bilangan mungkin membutuhkan lebih banyak aktivitas konkret. Sementara anak yang sudah memiliki fondasi kuat dapat lebih banyak menggunakan model visual dan simbol.
Perhatikan Kemampuan Pengajar
Tutor perlu memahami bukan hanya matematika, tetapi juga cara menjelaskan konsep sesuai tahap perkembangan anak.
Perhatikan Keseimbangan Konsep dan Latihan
Latihan tetap penting. Namun, latihan sebaiknya memperkuat pemahaman, bukan sekadar membuat anak mengerjakan soal sebanyak mungkin.
CPA dan Sempoa, Apa Bedanya?
CPA dan sempoa memiliki fokus yang berbeda.
Sempoa umumnya digunakan sebagai alat untuk melatih kemampuan berhitung dan kelancaran melakukan operasi aritmetika. Sementara itu, CPA lebih merupakan pendekatan pembelajaran yang membantu anak berpindah dari benda konkret menuju representasi visual dan simbol abstrak.
Karena itu, keduanya tidak harus diposisikan sebagai pilihan yang saling bertentangan. Ayah bunda dapat menentukan program berdasarkan tujuan belajar anak.
Jika prioritasnya adalah keterampilan berhitung, sempoa dapat dipertimbangkan. Jika ingin memperkuat pemahaman konsep dan problem solving, pendekatan seperti CPA dapat menjadi pilihan
